Langsung ke konten utama

#‎just‬ ‪#‎want‬ ‪#‎curcol‬ ‪#‎swag‬ ‪#‎soyolo‬ ‪#‎peace‬ ‪#‎waiting‬ ‪#‎boring‬ ‪#‎needhome‬



Saat pertama kali aku melihatnya, aku jatuh cinta? Cih, tidak, tidak juga.
Dia seorang teman yang baik. 

Maksudku, hatiku-berat untuk mengakui dan mengatakan hal itu. Tapi seorang yang kukenal lagi bilang bahwa tak apa menyebutnya dengan sebutan teman saja. "Dia itu baik, selalu membawakanmu bekal"
aku hanya tersenyum saja.

Terkadang dia juga jadi memposisikanku sebagai pendengar yang baik, dia itu suka sekali bercerita... Lebih tepatnya lagi, curhat!

Disetiap hari bertemu, entah jam berapapun itu. Dia akan meluangkan waktu untuk mengajakku membahas mengenai masalah hidupnya. Kejadian sehari-hari yang dialaminya. Mengenai keadaan rumahnya, ayahnya, ibu tirinya!

Terkadang aku merasa paling tahu dia. Membuatku tertawa, siapa dia? Dia menganggapku temannya... Tapi dia tak mengetahui secuil apapun itu mengenai diriku. Aku terlalu tertutup. Aku menutup diri. Selalu...

"penyendiri" Aku tahu kata itu yang akan terucap seiringnya waktu berjalan selama ini diantara kalangan temanku semua, dan keluargaku.
Aku bahkan membangun bentengnya dengan kokoh dan tebal entah mengapa. Sejak aku sekolah dasar, aku mulai menyadarinya.

Kebisingan itu aku menyukainya, tapi menjadi sumber atau bahan bakar dari timbulnya semua suara yang terkadang penuh dengan kebahagiaan itu. Bukan aku, teruntuk yang lainnya,..tapi.

 Senyum, aku lebih suka itu. Untuk menangapi semua hal.
 Tapi terkadang aku bisa kesal juga, marah, sedih...Untuk yang terakhir itu. Aku masih suka sekali kalah dalam menyembunyikannya. 

Terkadang, aku sendiri bingung dengan begitu cepatnya ekspresi diwajahku berubah menjadi datar. Sedetik senang, marah, kesal, sedih, dan dalam satu tarikan nafas...Aku sudah dapat mengendalikannya kejalannya semula. 

Dengan detakkan jantung yang tenang, wajah datar, senyum dibibir, rasanya semua menjadi biasa lagi. Membuat temanku yang lain terkadang kagum, dan selainnya.. Merasa aneh.

 Untuk itu, mereka terkadang menyuruhku untuk berubah saja, menjadi orang yang berbeda saja.

Bahkan ada yang mengataiku-kuper juga.

Kau pasti tahu mengapa, aku tak suka menegur orang baru yang menurutku tak ada kepentingannya sama sekali dalam hidupku. Jadi aku tak terlalu memperdulikannya.

Dan itu sepertinya akan menjadi masalah dilalu, sekarang, dan masa depanku nanti. Menjadi orang yang tak pernah bisa perduli, karena takut rasa nyamanku ditempat yang kecil dihati ini menjadi tergangu. Aku tidak suka itu.

Bagaimanapun juga, kebiasaan lama yang terlebih-menurutku dibawa sejak lahir ini akan sangat susah sekali ilangnya,'kan? Bukankah begitu?

Meskipun kalian akan berpikir bahwa karena aku sudah berpikir negatif dari awal, aku akan berat untuk mengambil langkah maju dalam menyelesaikan masalah ke kuper-ran ini. Tapi sebenarnya aku pernah berpikir positif juga.

Betapa akan mudahnya hidupku nanti apabila aku bisa menegur orang lain dengan baik pasti akan menyenangkan. Untuk mereka--oh, ayolah pergi negatif thinking!!--dan untukku--tentu ini sangat penting untukku!!-- juga.

Karena itu, kalau dalam waktu dekat nanti mood yang baik untuk berubah itu datang lagi seperti ratusan waktu yang telah terlewatkan selama ini datang, harapanku lagi yah, emm.. Untuk bisa berubah seperti yang mereka-orang lain itu- inginkan dalam versi seorang diriku tentu nya. 

Dapat menegur orang lainnya dengan baik tanpa menghilangkan sisi diriku yang selalu merasa nyaman dengan tubuh-diri-ku. 

(Tarakan, 26 Januari 2015. saat ikut mengantri bersama mahasiswa lainnya demi sebuah tanda tangan yang tidak sebegitu ajaibnya juga tapi begitu diperlukan demi bisa melakukan KRS ONLINE menyebalkan, yang membuat ku telat pulang kampung 2 hari untuk mendapatkannya. sialan! untung dosenku orangnya tidak banyak bacot, -____-)

Komentar