Saat menunggumu disini,



Yah, kau memang tidak menjanjikan apa-apa. Tidak pernah.
Yah, kau memang tidak mengatakannya dengan jelas, "iya..." bahkan dari pandangan matamu saja.

Aku sudah tahu, "tidak..." Kau tidak ingin orang menunggumu. Atau lebih tepatnya lagi. Jika kalian ingin lebih menyakitiku lagi. akan aku katakan yang sejujurnya padamu.

"Iya." dia akan memberikan tatapan itu pasti, kepada seseorang. Dan "tidak." dia mengisyaratkan hal seperti itu karena kata "ya!" tak pernah datang untukku. Teruntuk yang lainnya.

Tapi sampai saat ini, aku masih menunggumu disini diteman sepi.
Dan kau tak pernah datang.
Kau memang keluar, tapi tatapan senang itu bukan milikku.

Kau memandangku dengan lesu, "kau disini?" Lirihmu waktu itu.

Aku meringis saja.

Entah kenapa rasanya ingin begitu berteriak.
Oh man, bukalah matamu. Atau memang kau ingin aku menghilang?

Ayahku bahkan sudah pernah menyuruhku pergi saja. "Untuk apa kau menyia-yiakan waktumu padanya?" Dumelnya suatu waktu. Aku menggelengkan kepalaku.

Meskipun begitu, aku masih berdiam disini. Menunggu. Agar kekeraskepalaan-ku. Atau kau. Yang mulai datang dan mengubah alur cerita dan waktu untuk kita.

Yang menghadirkan senyum dan tawa, atau ringisan karena penuh pirisan jeruk diluka.

(Malinau, 27 Februari 2015. duduk dikursi sendiri, menunggu ibu yang setia masih menimba ilmu dan aku sendiri yang termenung dengan alunan musik.)

Komentar